Powered by Blogger.

Wednesday, 17 October 2012

Label : ,

Hikayat Si Miskin dan Unsur-unsur Intrinsik

Cerita


Hikayat Si Miskin

Karena sumpah Batara Indera, seorang raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya. Itulah sebabnya kemudian ia dikenal sebagai si Miskin.

Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di Negeri Antah Berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan menangislah si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki. Demikian seterusnya.



Ketika isterinya mengandung tiga bulan, ia menginginkan makan mangga yang ada di taman raja. Si Miskin menyatakan keberatannya untuk menuruti keinginan isterinya itu, tetapi istri itu makin menjadi-jadi menangisnya. Maka berkatalah si Miskin, “Diamlah. Tuan jangan menangis. Biar Kakanda pergi mencari buah mempelam itu. Jikalau dapat, Kakanda berikan kepada tuan.”

Si Miskin pergi ke pasar, pulangnya membawa mempelam dan makanan-makanan yang lain. Setelah ditolak oleh isterinya, dengan hati yang sebal dan penuh ketakutan, pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. Setelah diperolehnya setangkai mangga, pulanglah ia segera. Isterinya menyambut dengan tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu.

Setelah genap bulannya kandunga itu, lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah (anak di dalam kesukaran) dan diasuhnya dengan penuh kasih saying.

Ketika menggali tanah untuk keperluan membuat teratak sebagai tempat tinggal, didapatnya sebuah tajau yang penuh berisi emas yang tidak akan habis untuk berbelanja sampai kepada anak cucunya. Dengan takdir Allah terdirilah di situ sebuah kerajaan yang komplet perlengkapannya. Si Miskin lalu berganti nama Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya diberi nama Puspa Sari. Tidak lama kemudian, lahirlah anaknya yang kedua, perempuan, bernama Nila Kesuma.

Maharaja Indera Angkasa terlalu adil dan pemurah sehingga memasyurkan kerajaan Puspa Sari dan menjadikan iri hati bagi Maharaja Indera Dewa di negeri Antah Berantah.

Ketika Maharaja Indera Angkasa akan mengetahui pertunangan putra-putrinya, dicarinya ahli-ahli nujum dari Negeri Antah Berantah.
Atas bujukan jahat dari raja Antah Berantah, oleh para ahli nujum itu dikatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja bagi orangtuanya.

Ramalan palsu para ahli nujum itu menyedihkan hati Maharaja Indera Angkasa. Maka, dengan hati yang berat dan amat terharu disuruhnya pergi selama-lamanya putra-putrinya itu.

Tidak lama kemudian sepeninggal putra-putrinya itu, Negeri Puspa Sari musnah terbakar.Sesampai di tengah hutan, Marakarmah dan Nila Kesuma berlindung di bawah pohon beringin. Ditangkapnya seekor burung untuk dimakan. Waktu mencari api ke kampung, karena disangka mencuri, Marakarmah dipukuli orang banyak, kemudian dilemparkan ke laut. Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera Sari, putera mahkota dari Palinggam Cahaya, yang pada akhirnya menjadi isteri putera mahkota itu dan bernama Mayang Mengurai.

Akan nasib Marakarmah di lautan, teruslah dia hanyut dan akhirnya terdampar di pangkalan raksasa yang menawan Cahaya Chairani (anak raja Cina) yang setelah gemuk akan dimakan. Waktu Cahaya Chairani berjalan –jalan di tepi pantai, dijumpainya Marakarmah dalam keadaan terikat tubuhnya. Dilepaskan tali-tali dan diajaknya pulang. Marakarmah dan Cahaya Chairani berusaha lari dari tempat raksasa dengan menumpang sebuah kapal. Timbul birahi nahkoda kapal itu kepada Cahaya Chairani, maka didorongnya Marakarmah ke laut, yang seterusnya ditelan oleh ikan nun yang membuntuti kapal itu menuju ke Palinggam Cahaya. Kemudian, ikan nun terdampar di dekat rumah Nenek Kebayan yang kemudian terus membelah perut ikan nun itu dengan daun padi karena mendapat petunjuk dari burung Rajawali, sampai Marakarmah dapat keluar dengan tak bercela.

Kemudian, Marakarmah menjadi anak angkat Nenek Kebayan yang kehidupannya berjual bunga. Marakarmah selalu menolak menggubah bunga. Alasannya, gubahan bunga Marakarmah dikenal oleh Cahaya Chairani, yang menjadi sebab dapat bertemu kembali antara suami-isteri itu.

Karena cerita Nenek Kebayan mengenai putera Raja Mangindera Sari menemukan seorang puteri di bawah pohon beringin yang sedang menangkap burung, tahulah Marakarmah bahwa puteri tersebut adiknya sendiri, maka ditemuinyalah. Nahkoda kapal yang jahat itu dibunuhnya.

Selanjutnya, Marakarmah mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin kembali. Dengan kesaktiannya diciptakannya kembali Kerajaan Puspa Sari dengan segala perlengkapannya seperti dahulu kala.

Negeri Antah Berantah dikalahkan oleh Marakarmah, yang kemudian dirajai oleh Raja Bujangga Indera (saudara Cahaya Chairani).

Akhirnya, Marakarmah pergi ke negeri mertuanya yang bernama Maharaja Malai Kisna di Mercu Indera dan menggantikan mertuanya itu menjadi Sultan Mangindera Sari menjadi raja di Palinggam Cahaya.

Ringkasan Cerita


Hikayat Si Miskin

Ada seorang suami istri yang dikutuk hidup miskin. Pada suatu hari merekamendapatkan anak yang diberi nama Marakarma, dan sejak anak itu lahir hidupmereka pun menjadi sejahtera dan berkecukupan. Ayahnya termakan perkataanpara ahli nujum yang mengatakan bahwa anak itu membawa sial dan mereka harusmembuangnya. Setelah membuangnya, mereka kembali hidup sengsara. Dalammasa pembuangan, Marakrama belajar ilmu kesaktian dan pada suatu hari iadituduh mencuri dan dibuang ke laut. Ia terdampar di tepi pantai tempat tinggalraksasa pemakan segala. Ia pun ditemukan oleh Putri Cahaya dan diselamatkannya.Mereka pun kabur dan membunuh raksasa tersebut.Nahkoda kapal berniat jahat untuk membuang Marakarma ke laut, dan seekorikan membawanya ke Negeri Pelinggam Cahaya, di mana kapal itu singgah.Marakrama tinggal bersama Nenek Kebayan dan ia pun mengetahui bahwa PutriMayang adalah adik kandungnya. Lalu Marakarma kembali ke Negeri Puspa Sari danibunya menjadi pemungut kayu. Lalu ia memohon kepada dewa untukmengembalikan keadaan Puspa Sari. Puspa Sari pun makmur mengakibatkanMaharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakramamenjadi Sultan Mercu Negara.

Unsur-unsur intrinsik


Tema:
Kesuksesan Dibalik Kesengsaraan

Tokoh dan Karakter:
Maharaja Indra Angkasa (Si Miskin):mudah percaya orang lain, lebih mementingkan harta dari pada anak.
Ratna Dewi (Istri Si Miskin):Penyayang.
Marakarma:Mudah memaafkan.
Nila Kesuma (Mayang Mengurai):Penyayang.
Maharaja Indra Dewa:Pendendam, iri hati, murah hati.
Putri Cahaya Kairani:Suka menolong, membela yang benar.

Alur plot:
Maju, karena penulis menceritakan peristiwa tersebut dari awal permasalahan sampai akhir permasalahan.

Setting:
Tempat : Negeri Antah Berantah, hutan, pasar, Negeri Puspa Sari, Lautan, Tepi Pantai Pulau Raksasa, Kapal, Negeri Palinggam Cahaya.
Waktu : Zaman pemerintahan Raja Antah Beranta
Suasana : Meratapi Nasib

Sudut Pandang Pengarang:
orang ketiga serba tahu.

Gaya Bahasa:
Hiperbola: “seorang anak laki-laki terlalu amat baik parasnya dan elokrupanya…”

Amanat:
Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang adil dan pemurah.
Janganlah mudah terpengaruh dengan kata-kata oranlain.
Hadapilah semua rintangan dan cobaan dalam hidup dengan sabar dan  rendah hati.
Jangan memandang seseorang dari tampak luarnya saja, tapi lihatlah ke dalam hatinya.
Hendaknya kita dapat menolong sesama yang mengalami kesukaran.
Janganlah kita mudah menyerah dalam menghadapi suatu hal.
Hidup dan kematian, bahagia dan kesedihan, semua berada di tanan Tuhan, manusia hanya dapat menjalani takdir yang telah ditentukan.

About rijkiramdani id

Hi, My Name is Rijki Ramdani. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.

1 komentar:

  1. đồng tâm
    game mu
    cho thuê nhà trọ
    cho thuê phòng trọ
    nhac san cuc manh
    số điện thoại tư vấn pháp luật miễn phí
    văn phòng luật
    tổng đài tư vấn pháp luật
    dịch vụ thành lập công ty trọn gói
    nước cờ trên bàn thương lượng
    mbp
    erg
    nghịch lý
    chi square test
    nghệ thuật nói chuyện
    coase
    thuyết kỳ vọng
    chiến thắng con quỷ trong bạn
    cân bằng nash

    Triệu Quốc Đống mới có bao nhiêu tuổi, đã trải qua bao nhiêu nhân sinh mà vì sao lại có hùng tâm tráng chí như vậy? Càng hiếm thấy là đối phương dường như còn ý thức được khả năng thất bại sẽ nhiều hơn thành công nhưng lại vẫn quyết tâm bước đi, chẳng lẽ đúng như hắn nói, thất bại cũng là một cách thưởng thức khó có được sao? Nhìn lại trước nay, nói thì dễ dàng nhưng thật sự có thể làm được điểm này thì có được mấy người? Nhưng nếu không thử qua thì sao anh có thể hiểu được cảm ngộ kỳ diệu và tư vị trong đó chứ?

    Thành thì sao, bại thì sao, miễn là được đọ sức!
    - Cù tỷ, có phải trong lòng đang có rất nhiều điều muốn nói ra nhưng lại không tìm thấy người thích hợp đúng không?
    Triệu Quốc Đống hít thở một hơi thật sâu:
    - Có lẽ tôi không phải là người thích hợp nhất nhưng tôi sẽ giữ mồm giữ miệng, nếu Cù tỷ tin tôi thì đừng ngại nói ra, còn nếu không tin thì coi như tôi chưa từng nói gì.

    Chiếc Santana lao băng băng trên đường quốc lộ An Lam, sau khi được tu sửa thì tình trạng con đường quốc lộ cấp hai này không tồi. Tuy rằng có hơi chật đôi chút nhưng được cái bằng phẳng ít khúc cong, Triệu Quốc Đống nhấn chân ga lên mức 60 km/h.

    Giọng điệu của Cù Vận Bạch khi thì nhanh chóng cao vút, khi thì trầm thấp, u sầu, có lẽ cũng do lâu rồi không bộc lộ tất cả tâm sự trước mặt người khác, những chất chứa tích tụ lâu ngày trong lòng đột nhiên xuất hiện một khe nứt nhỏ nên không kìm nổi mà tràn ồ ạt ra ngoài.

    Triệu Quốc Đống thể hiện mình là một người lắng nghe đủ tư cách, không hề có bất kỳ lời lẽ dư thừa nào, nhiều lắm cũng chỉ chêm thêm trợ từ để giúp Cù Vận Bạch có thể thuận lợi phát tiết tất cả trong lòng ra.

    ReplyDelete